Selamat Datang di Blog Diary Saya...

Anda dapat menelusuri Tulisan Lengkap saya tentang Proses Utuh Perjalanan Spiritual di:
http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Tulisan saya yang lain :
http://taskm.blogspot.com

11 September 2009

Hujan, Kehendak Dalam Seksual dan Akal Budi

Dalam hujan yang lebat dan menyegarkan, manusia kodok... sang betina, keluar, duduk serta menunggu di mulut sarangnya. Kulihat jelas, sel–sel telur di dalam perutnya mengeluarkan listrik perangsang bagi seluruh sel kulitnya. Dengan tangan yang menopang pipi dan sinar mata yang memancar ke segala arah, lalu ia memainkan jari–jari tangannya. Telunjuk di tangan kanan disentuhkan ke setiap celah dari jari tangan kiri. Oh hujan, Lihat! Engkau telah membuat sifat mendamba-nya menyeruak keluar. Dengan bibir berlipat, kedua tangannya perlahan dimajukan ke depan. Ia melenturkan otot–otot pinggulnya agar rangsangannya beralih tegangan. Sebuah puncak impian dari tubuh telah dilewati… Sesaat kemudian, ia ingin tubuhnya dipeluk oleh kehangatan yang lebih keras dan hawa–hawa padat. Telur–telurnya siap dibuahi oleh manusia–manusia kodok jantan… Ya, akselerasi seksual yang tanpa membeda–bedakan!

Ketika salah satu diantara kodok jantan menghampiri, mengoda dan menyentuhnya. Hatinya tiba–tiba terbangun dan memberontak serta membalas “Kurang ajar, kenapa engkau alirkan racun pada tubuh dan pikiranku!” Ini adalah sebuah gerak lempar dua kali dan berbalik… Sebuah kebencian besar pembungkus dari akal budi. Kukatakan: kodok betina ini sudah mandul... Kehendak tubuh yang dikendalikan akal budi pikiran ini sebenarnya sangatlah buruk… Lupa ia pada tugasnya. Ia harus menunggu hujan yang berikut, yang sesuai dengan kehendak listrik dari sel–sel telurnya. Andai seorang perempuan tidak dapat memutar-mutar leher dan matanya, ia akan mengorok–ngorok dan membesarkan otot–otot di lehernya seperti balon, lalu bertingkah laku seperti kodok–kodok betina lainnya di musim hujan…


katharsis-holydiary[18012004(7)]

10 September 2009

Kota... Hasil Kreativitas Akumulasi Dari Segala Sesuatu

Sesungguhnya, kemiskinan yang terjadi pada desa–desa di pinggiran kota, bukanlah sebuah kemiskinan yang negatif, melainkan sebuah keadaan. Sebuah keadaan yang pesimis dan memiliki nafsu global untuk merambah teknologi kota. Dapat terjadi bahwa kota–kota sesungguhnya membawa nilai kesenjangan. Sumber kesenjangan yang dapat mempengaruhi seluruh kehidupan. Di mana ada kota besar, di sanalah cenderung terjadi krisis eksistensi. Karena, formasi kota adalah seperti anak–anak yang lahir dari faham kapitalisme di bidang ekonomi-sosial.

Sebuah kota adalah seperti sang pengumpul… Adanya kota menunjukkan adanya kaum–kaum pengumpul dan usahawan–usahawan besar. Dan adalah benar, pesat perkembangannya, disebabkan karena pergerakan materi–materi yang berjumlah besar, yang berputar – putar di dalamnya, lalu dialirkan keluar untuk menjangkau daerah–daerah sekitarnya. Kota, adalah seperti pasar besar, yang menyebabkan lapangan pekerjaan dan sifat mem-perobjek sesuatu bertambah. Dalam kota, ada kesenjangan materi yang besar, yang sangat melanggar, yang tidak mampu melihat, bahwa pekerjaan sederhana sebagai sebuah keadaan normal bukan sebagai sebuah kehidupan yang sulit. Penanam–penanam sayur, pengumpul–pengumpul rumput dan ranting pohon, yang harus keluar bekerja di pasar–pasar pusat kota adalah pekerjaan yang normal… Yang menjadi masalah, ketika jumlah penduduk di desa dan kota sama banyaknya, orang–orang cenderung ke pusat–pusat kota dan ingin hidup menetap. Apakah ini pergerakan yang alami? Apa yang menyebabkan kecenderungan ini? Apakah kecenderungan ini merupakan asal usul terbentuknya sebuah akumulasi? Apa pun itu, segala sesuatu yang memiliki kecenderungan mengumpul adalah kurang baik. Pola–pola kota yang berbentuk grid merupakan ciri khas kepelitan seorang pengusaha mengefektifkan jalan kegiatan usahanya, bukan karena pertimbangan terhadap fungsionalitas kreativitas subjek. Yang ada pada mereka, hanyalah kreativitas mengumpulkan materi. Apakah ini merupakan sebuah seni, seni mengatur orang? Ini adalah sebuah perbudakan terselubung yang kemudian diatur dalam peraturan – peraturan. Lalu lahirlah undang – undang… dan negara!

Dengan demikian akarnya adalah: subjek telah lumpuh. Yang tidak dibiarkan berkembang dengan melakukan pekerjaannya sebagai cerminan dari dirinya sendiri. Bukan kerja seperti mesin (kuantitatif) untuk mengenyangkan perut seorang pengumpul (majikan). Inilah hambatan terhadap seseorang untuk menuju eksistensinya sendiri. Yang berarti pula melanggar kehendak Roh Semesta… Bukankah kota–kota besar merusak iklim, sehingga musim panen datang tidak tepat pada waktunya di pedalaman? Kota adalah seperti anak–anak negara, yang juga merusak kreativitas objektif. Demikian juga pada arsitektur fungsionalitas, yang dipengaruhi oleh pikiran sang pengumpul!


katharsis-holydiary [18012004(7)]

09 September 2009

...

Cakar anjing dan rupa menyerupai kera. Dengan kedua bola mata berwarna merah besar, seperti lampion pelabuhan. Itulah mahkluk yang muncul dari air yang tertampung di parit pada malam hari. Sebelum kemunculannya, seorang ibu menceritakan bahwa gejalanya bermula dari kejauhan parit, ada gelembung–gelembung air yang muncul di permukaan seperti pada saat orang sedang menyelam. Lalu gelembung–gelembung air itu semakin dekat. Sampai sekitar lima langkah dari sang ibu, mahkluk itu muncul dari air, mahkluk apa itu? Yang dekat kawasan pekuburan… Untuk menghilangkan hal demikian, dipasanglah semacam penangkal, yaitu gumpalan benang merah dengan panjang kurang lebih satu setengah meter dan beberapa panji kecil yang didapat dari kuil dekat rumahnya…??? Penangkal dari ketidak-sadaran pikiran terhadap kehidupan; aku menyebutnya!

katharsis-holydiary [18012004(7)]

08 September 2009

...

Kesendirianku... kelihatannya belum cukup sanggup membuat hatiku memandang adil pada semua tempat. Sekali lagi, bukan berasal dari hatiku, tapi jiwa orang lain yang terletak dalam hatiku… Itu yang membatasi kemampuanku! Aku masih memiliki racun belas kasihan yang tidak seimbang… kebanyakan memang!

katharsis-holydiary [18012004(7)]

07 September 2009

Peradaban Terkutuk

Mari kita sama–sama mencari jalur hidup yang murni, wahai semua sahabat manusia! Karena pekerjaan seperti itu dari hari ke hari semakin sulit… Kesulitan ini-lah yang ditumpuk dunia. Semua itu seperti sebuah endapan yang semakin keras dan meninggi dari hari ke hari. Bahkan, pikiran para pekerja pencari kebijaksanaan pun dapat dibungkamnya. Sesungguhnya, dapat kunamakan monster kesulitan ini sebagai sang pengumpul atau sang penunda, yang terwujud dalam satu roh... roh materi kapital. Dua jenis kawanan inilah yang selalu membuatku muak, yang selalu membuat lambungku mencerna dinding kulitnya sendiri. Lalu, kotoran–kotoran dalam tubuhku menjadi tertahan oleh mereka. Orang–orang ini adalah sang pengatur besar, yang belum selesai tamat belajar. Sesungguhnya, peradaban teknologi kita berjalan lebih lamban dibanding yang sedang berlangsung sekarang ini. Peradaban kita berjalan terlalu cepat, ingin cepat naik kelas kulihat mereka dan bahkan, mereka sering meloncat–loncat melewati beberapa kelas. Sungguh seorang pelajar yang curang... curang terhadap nasehat Roh Semesta.

Jika memang sudah sedemikian terkutuknya peradaban ini, satu–satunya jalan bukanlah memperlambat, memanggil ataupun mendidik satu per satu kawanan pengatur itu tentang kebijaksanaan. Karena tindakan ini, hanyalah menahan gunung endapan itu dan tidak mengalirkannya… Bagi sang pemikir besar, aliran air kebijaksanaanlah yang harus diperkuat arusnya, agar gunung endapan itu bergeser dan terurai lapis demi lapis dari bawah. Kalau perlu, diundang pula badai air terbesar untuk menghantamnya, agar meledak sekalian. Kita akan melihat kemudian, mahkluk–mahkluk aneh dan parasit terhempas keluar dari tumpukan itu, lalu hanyut terbawa air. Tetapi, mahkluk-mahkluk lugu yang baru ikut kelas baru kebijaksanaan akan banyak ikut tersapu, mahkluk–mahkluk yang tanpa dosa itu! Daripada mereka dididik untuk ikut mengendapkan diri dan pikirannya menjadi beracun, lebih baik bibit–bibit ini kita korbankan… Bukankah akan lebih banyak bibit baru yang terbunuh dan tertindih oleh gunung–gunung endapan yang bertahan di pinggir daratan, nantinya... Maka, demikianlah: bahwa haruslah kita mempercepat gerak peradaban terkutuk ini. Aku yang akan memimpin gerakan ini… dan akan kudidik bibit-bibit baru serta kuajari mereka cara hidup yang semuanya mengarah pada cinta eksistensi Roh Semesta… Ketahuilah: dalam kelahiran, pekerjaan, canda, perkawinan, sakit dan kematian, semuanya memiliki satu arus roh… Roh Semesta. Seorang pengajar yang tidak tahan terhadap racun pujian dan penghargaan. Karena, ketika dihargai, ia akan berubah menjadi iblis dan malaikat yang sulit dibedakan… Tapi, semua itu dapat tidak berarti apa – apa.


katharsis-holydiary [16012004(5)]

06 September 2009

...

Harus kita temukan seorang dara, wahai kaum adam! Kita harus telusuri bagaimana rupa terdalam dari eksistensi yang dikandungnya, mahkluk penggoda yang satu itu! Cukup satu, agar perjalanan kita tidak sia–sia. Dan pernah kurasakan, kesetiaan cinta eksistensi ada di ujung perjalanan… Kesetiaan seperti ini tidaklah pernah menuntut sebuah sikap untuk mempertahankan, karena ia merupakan sebuah pekerjaan dari kehendak utama. Seperti halnya kita melakukan pekerjaan demi pekerjaan itu sendiri. Bukankah di sana, dengan sendirinya akan lahir sebuah kesetiaan. Andai, di dalamnya tidak pernah kita tuntut sebuah kehormatan dunia, uang, kekuasaan dan sebagainya. Atau dapat kukatakan: cinta besar tidak mengandung ikatan...

katharsis-holydiary [16012004(5)]

05 September 2009

Tanpa Tujuan... Menemukan Pengetahuan Sejati

Memasuki sebuah wilayah baru dengan satu tujuan untuk observasi, adalah tindakan yang mengkhianati sebuah kedalaman pengetahuan. Tujuan itu akan menjadi pengaduk hukum–hukum tersembunyi yang ada di dalamnya. Mari kita memulai dari awal, dengan lembut, langkah demi langkah, kita tuntun untuk berkenalan dengan kulit luar sebuah kota… Pasar (sebuah komunitas), dan ke mana arus ini membawa kita, maka di sanalah letak daripada sumber pengetahuan yang harus kita cari. Sekarang, yang bermasalah adalah jiwa kita. Apakah ia mampu melihat keterhubungan dari segala hal yang sekaligus tidak memiliki sifat memilih–milih objek pengetahuan?!
Kita memasuki arus kehidupan dari sebuah lingkungan, bukan karena kita yang mengaturnya dengan pikiran. Tapi lihatlah, ada hukum–hukum tertentu yang terselubung di sebuah tempat, mereka akan menjulurkan tangannya untuk menyambut kita… Dengan demikian, seharusnya kita terima pula dengan jiwa terdalam. Maka, semuanya akan berlayar bersama untuk menemukan pengetahuan sejati… Itu adalah sebuah kompromi eksistensi antara kita dan lingkungan. Waktu yang dijadwalkan dan segala target hasil haruslah disingkirkan. Karena, itu hanya menimbulkan rasa curiga, salah faham dan terakhir, ia akan melanggar hukum terselubung dari lingkungan itu. Sesungguhnya, semua pekerjaan dapat disebut pekerjaan pengamat kehidupan dan menuliskannya…


katharsis-holydiary [16012004(5)]

04 September 2009

Langkah Terakhir

Ingin kuselesaikan sisa jembatan yang hanya tinggal sejengkal ini… Sejengkal yang sangat berguna, sejengkal agar tiap jengkal sebelumnya menyadari keberadaannya. Tapi, sejengkal ini begitu berat, seperti semua jenis jiwa berpelukan, bercampur dan duduk di atas papan yang terakhir ini. Inilah perumpamaanku untuk kesederhanaan dalam kemiskinan. Yang begitu mirip dengan Roh Semesta. Menjalani tanpa memahami, apakah itu disebut memahami?! Harus kubedakan roh yang satu ini dengan Roh Semesta-ku. Roh Semesta-ku adalah Roh Semesta yang menguasai segalanya, serta memiliki seribu mulut dan seribu telinga yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Lalu ia siap untuk berbicara tentang hal–hal besar dan mendengar tentang hal–hal besar pula... Tanpa terikat oleh kesederhanaan dan kemewahan...

katharsis-holydiary [15012004(4)]

03 September 2009

...

Segala nilai telah banyak yang pergi dariku, lalu aku diantar untuk mengunjungi hutan–hutan terpencil dan kutemui orang–orang di sana. Sebenarnya, bukan kemiskinan materi yang sangat dekat dengan Roh Semesta, tapi kesederhanaan dalam kemiskinanlah yang merupakan sahabat dekat Roh Semesta… Demikian juga: sebenarnya bukan kekayaan materi yang sangat jauh dari Soh Semesta, tapi kemewahan dalam kekayaanlah yang merupakan sahabat jauh dari Roh Semesta… untuk manusia–manusia sekarang!
Antara kesederhanaan dan kemewahan di belakangnya berdiri diam Roh Semesta…


katharsis-holydiary [15012004(4)]

02 September 2009

Penghakiman Kebahagiaan Duniawi

Langkah terpenting adalah: harus kutinggalkan nilai-nilai keburukan pada diriku sendiri. Agar kebaikan orang lain tidak dapat menyusup ke dalam diriku sebagai sang penilai, terutama terhadap sang miskin materi. Tapi, manusia sekarang, hampir seluruhnya dirasuki oleh roh materi… sebuah kutub ekstrim penilaian. Sebuah kutub kanan yang digeser hingga dijadikan sebagai sebuah titik penyeimbang. Bagaimana mungkin? Maka, ini akan menjadi penghalangku. Harus kuseret keluar manusia–manusia yang seperti ini dari perut malaikat kebahagiaan materi… Harus kusebarkan surat–surat perjanjian kepada setan–setan sakit penyakit dan penderitaan, untuk kupinjam golok berkelok mereka. Kemudian, dengan golok itu, kubelah perut yang semakin membuncit itu hingga seluruh isinya berhamburan keluar. Kuperas usus yang berisi koin–koin emas hasil penghisapan dari orang–orang bawah. Kuhancurkan pula mesin dalam lambungnya, agar mereka tidak dapat mencerna benih–benih kebahagiaan duniawi dengan baik. Dan terakhir, kantong kotorannya yang berisi tumpukan kebahagiaan kulempar ke laut dalam agar kebahagiaan sejati yang menghakimi-nya…

Wahai manusia! Sakit penyakit dan penderitaan adalah peringatan dari Roh Semesta… Andai ini yang menimpa kita… bersyukurlah dan berdamailah! Agar ia menjadi tangga–tangga pijakan kita menuju kesadaran lebih tinggi.


katharsis-holydiary [15012004(4)]

01 September 2009

Belas Kasih Dunia dan Cinta Eksistensi

Malam ini, perjalanan hingga hari ini. Kenapa rasa keterikatanku begitu besar?! Keterikatan eksistensi… Apakah belum kering semua sari yang kusedot di setiap tempat? Atau ketika keterikatan membesar hingga titik tertinggi, itu pertanda aku harus meninggalkan suatu tempat? Oh... selama aku berada di kota ini; hanyalah kusentuh beberapa tempat, tapi sedemikian besar mereka menyeretku. Aku ingin kembali kepada semua masa–masaku bersama segalanya: sang kakek bermata segitiga, sang pengantin lintah, batu pegunungan, pondok–pondokku, sapi, beberapa gadis kecil yang kutemui secara kebetulan, mayat sang anjing air dan semuanya yang sulit kuingat satu per satu…
Kesederhanaan eksistensi-kah yang terus menahanku? Harus kurencanakan masa–masa sulit selanjutnya, agar segera kutemui sahabat sejati.

Kemiskinan hidup mempengaruhi perilaku seseorang, tapi selalu saja kita mengatakan bahwa keadaan itu sesuatu yang buruk. Bagiku, semua itu hanya sebuah keadaan, bukan perbedaan. Di antara sekian banyak keadaan, kebaikan sejati ada di belakang keterus-terangan. Untuk orang–orang yang berlebihan materi: hal ini justru akan sedikit sulit dicapai. Ada banyak lapisan–lapisan yang menyamar diri, periksalah ke dalam diri kita masing–masing! Akan kita dapati kemudian, beberapa kesalahan yang saling menuduh dan saling menolak, lalu lahirlah ilusi kebenaran.
Apakah ini sebuah belas kasihan atau cinta eksistensi, oh malam?!
Aku kesulitan memilah dua rupa ini yang begitu mirip. Kulihat mereka duduk berdua sambil bermain dengan jari–jemari tangannya sepanjang hari…
Begitu asyiknya permainan, mereka kadang lupa pada sebuah diri yang sedang kebingungan untuk membawa salah satunya pergi. Lama kuamati permainan mereka. Samar – samar, kulihat di belakang mereka, satu sosok lagi tersembunyi. Ia seperti sebuah kecemasan yang berkeinginan untuk mengabarkan sesuatu… mengabarkan tentang ketabahan hidup. Sebuah bungkusan yang sangat rapat. Dan terakhir, aku menemukan sosok ini hidup dalam tiap pikiran manusia. Agar dapat kuseret keluar sosok tersembunyi ini, harus kulepas satu per satu selubung–selubung yang ada. Lembaran–lembaran yang saling bertautan seperti pembungkus kado ulang tahun. Setiap jengkal tulisan yang terukir di atasnya harus kubaca dengan kaca pembesar Roh Semestaku. Agar kemudian, aku dapat tiba pada inti permainan mereka. Dan akan kulihat dari dekat siapa di antara mereka berdua ini yang paling buruk rupanya…


katharsis-holydiary [15012004(4)]

31 Agustus 2009

Tentang Sore Hari

Sore menjelang malam… di sebuah pondok aku berteduh. Aku ingin mendengar apa yang akan terjadi pada angin–angin ini… sang pembawa suasana ini. Harus kukatakan: bahwa sore yang paling dalam pada manusia adalah kembali ke kediaman-nya.

Setiap jenis mahkluk memiliki masa aktif dan pasif dalam satu hari, satu bulan ataupun satu tahun. Sore sangat mirip dengan subuh.

Tapi, sore adalah perjalanan menuju subuh. Sore sangat lembut dan bergerak lamban menuju kekuatan dasyat puncak spiritual. Sore, seperti perjalanan transisi memasuki bibir–bibir teluk dari Roh Semesta… Aku lebih senang duduk bersama dia, sang sore ini… Duduk untuk memasuki gerbang malam. Malam adalah waktu untuk beristirahat, pikiran–pikiran perlahan melambat, hingga sang tidur datang untuk bergabung dengannya. Tidur yang bijaksana, kita harus menerima kedatangannya kapanpun di malam hari. Karena ia adalah tamu sekaligus sahabat Roh Semesta dalam wadah puncak eksistensi…

katharsis-holydiary [14012004(3)]

30 Agustus 2009

Roh Semesta Adalah Sang Nihilis?!

Gelisah! Desakan apa ini? Apa keinginan dari semua tamu yang hadir? Mereka semua sedang mencabit –cabit jiwaku. Jika salah satu dari mereka yang aku penuhi keinginannya, maka kebahagiaanku akan tumbuh di sana…
Yang pertama… sang perindu masa lalu, lalu sang pendamba masa depan yang menginginkan kehormatan dan kekayaan duniawi, lalu sang pendamba tubuh, kegilaan serta master tragedi dan yang terakhir Roh Semestaku.
Sekali lagi, apa yang kalian inginkan dariku? Wadah rohku hanya satu. Bagaimana kupenuhi ke enam mulut kalian yang berlahap–lahap seperti ikan mas di kolam, yang tidak pernah kenyang dengan air kehidupan. Semua jalan yang kalian tawarkan, sepertinya meminta pengorbanan... rasa duka yang dapat tersebar ke mana pun.
Tapi, dari semuanya, Roh Semesta, master tragedi dan sang pendamba tubuh-lah yang memiliki daya tarik paling besar. Saat sekarang, ketiga roh inilah yang menggerakkan jari jemariku untuk merangkai tulisan ini. Jika ke tiga mulut ini bergerak, maka tanganku pun ikut bergerak…
Aku curiga, aku sering melihat ketiga roh ini bergandengan tangan sambil jalan–jalan di ketinggian awan, ketika kupandang dari bawah. Tapi, ketika aku mendaki sampai di atas kepala dari segala roh, mereka memisahkan diri dan berjalan sendiri–sendiri. Yang paling sering kulihat berebutan jalan, adalah sang pendamba tubuh dan master tragedi itu… Ketika berebutan jalan, kelakuan mereka menyiksa jiwaku yang paling dalam. Tapi sebagai pelerai, sang Roh Semesta-lah yang selalu mendamaikan semua keributan itu. Lantas, semua tamu jadi ikut berteriak, bahwa Roh Semesta tidak memiliki aturan hidup yang jelas, kenapa manusia, yang jelas–jelas memiliki tubuh masih selalu mencari–cari aturan itu?!

Benarkah demikian? Bahwa Roh Semesta adalah sang nihilis itu... para kebetulan–kebetulan yang menyambar–nyambar dalam kehidupan dengan daya-daya finalnya. Atau pernah kusebut ia sebagai puncak kebermaknaan Roh Semesta… yang harus kita terima dengan kepasrahan yang berumur tua dan egoisme… sang kehendak utama dan kehendak turunan. Inilah yang kudapati akhirnya. Tapi, satu lagi, sesungguhnya Roh Semesta tanpa isi dan tanpa arah. Ia hanya memiliki posisi duduk yang dapat melihat semua sisi kehidupan, terutama ketika berada dalam kekosongannya sendiri.

Roh Semesta bergerak di dalam setiap roh keinginan dan kepasrahan yang netral, serta merupakan puncak dari segala pengetahuan yang kekal dan kesadaran...


katharsis-holydiary [14012004(3)]

29 Agustus 2009

...

Jika manusia masih memiliki nilai positif dan negatif dalam menilai terang dan gelap, maka ia masih memiliki rasa kasih dan rasa benci ciptaannya sendiri, bukan kasih dan benci eksistensi…

katharsis-holydiary [13012004(2)]

28 Agustus 2009

Kegilaan Yang Agung

Merindukan semua yang ditinggalkan dan mendambakan semua yang baru adalah posisi yang paling rawan terperosok dalam kegilaan, tapi sekaligus juga jalan untuk menjadi master tragedi.

Saat ini, diriku berada di antara ke empat kutub itu… Dua yang pertama kadang masih menarik atau menolakku. Dulu, mereka ini pernah mengkhianatiku dan mendorongku ke dalam ruang–ruang hampa, ruang kegelapan hutan, kegelapan lautan dalam, lembah–lembah curam bahkan… jiwaku pernah dipanggang di dalam tungku panas seperti pembakaran periuk adanya. Di dalam sana, arus ke tiga itu, sang abu periuk kegilaan dalam tungku, datang dan menggodaku serta berkata “Engkau dibentuk oleh pengrajin tanah liat yang buruk, campuranmu adalah campuran terkutuk dan tertolak. Kutukan untuk menjadikanmu tumpukan abu. Ada baiknya lepaskan jiwamu, karena retak tubuh jiwamu sudah kelihatan. Kembalilah ke takdirmu... kegilaan terhadap segalanya”.

Aku memang menyerah… menyerah kepada kepasrahan yang melampaui kegilaan pecahan–pecahan periuk itu. Mungkin, dunia mereka ini adalah neraka, dalam hatiku berkata. Kepasrahan kepada tragedi yang berlarut–larut, kemudian mengantarku berkenalan dengan seonggok roh yang melampaui wujud. Ia tinggal di puncak–puncak api. Puncak–puncak dalam pada abu yang paling hitam. Bahkan, ia terselubung di dalam sang penghuni tungku dan sang pengrajin periuk itu sendiri… Siapa dia sesungguhnya? Sang master tragedi; kupanggil dia kemudian! Ia mengajariku agar tangan–tangan jiwaku menjadi lincah untuk membuka topeng–topeng para perindu masa lampau dan masa depan tadi, Ya… sang pendamba yang ditinggalkan dan yang akan datang itu. Lalu, untuk kegilaan, ia bukanlah sebuah arus yang perlu dibenci dan dihindari. Sebenarnya ia sejajar dengan dua tamu yang pertama tadi. Bagi master tragedi, mereka bertiga memiliki kegilaan yang berbeda–beda, yang perlu dikasihani… demikianlah!

Sampai sekarang, telah kumunculkan jiwa sang master tragedi di dalam jiwaku. Ia adalah pejalan lamban yang cara jalannya sangat berbeda dengan cara jalan sang pendamba masa lalu dan masa depan. Suatu saat yang paling hening, di kedalaman hutan yang paling rimbun, kudengar ia ingin menolak segalanya… Ia, sepertinya memiliki muslihat untuk menumpuk gunung tragedi dalam jiwaku sekarang. Ia menuntut sesuatu. Aku fahami benar, bahwa keahlian memanfaatkan tumpukan tragedi adalah jalan tercepat menuju semesta kebijaksanaan, yang kemudian menghasilkan karya–karya yang bernafaskan kearifan hidup.

Tapi, sang master tragedi ini perlu dijinakkan. Ia harus dipertemukan dengan satu tamu lagi yang dapat mengendalikan keliarannya dalam mencari kebijaksanaan. Karena, di ujung terdalam dari keahlian sang master tragedi ini memiliki kegilaan yang lain, yaitu kegilaan yang agung…
Tamu terakhir yang tiba tadi... kunamakan Roh Semesta! Sesungguh-nya roh terakhir ini, terdapat di dalam diri setiap manusia, bahkan segala sesuatunya.
Ada tragedi yang datang dengan sangat kebetulan dan menumpuk, ia yang kita cari kebijaksanaannya. Tapi, ketika mengetahui jalan rahasia ini, kita perlu kebijaksanaan lebih besar untuk mengendalikan nafsu ini. Karena ia akan berbalik, untuk merencanakan dan menumpuk tragedi demi mencapai kebijaksanaan lebih cepat. Maka, berhati – hatilah! Inilah roh terakhir yang perlu kita waspadai… Kegelisahan untuk mengabarkannya kepada seluruh dunia… Gunung kebijaksanaan yang menggila…” Demikianlah, sabda Roh Semestaku yang terakhir... dan terutama kepada orang – orang suci!


katharsis-holydiary [13012004(2)]