Selamat Datang di Blog Diary Saya...

Anda dapat menelusuri Tulisan Lengkap saya tentang Proses Utuh Perjalanan Spiritual di:
http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Tulisan saya yang lain :
http://taskm.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan pengamat kehidupan.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan pengamat kehidupan.. Tampilkan semua postingan

04 November 2009

Jiwa Bebas

Aku sedang memikirkan apa yang disebut jiwa bebas dari daya final-ku… Jiwa bebas, sesungguhnya berada di dalam kontrol nilai dalam dunia manusia, baik itu nilai subjektifitas kita, objektif maupun tradisi. Tapi andai demikian halnya, bukankah hari ini aku seharusnya tidak berada di sini… di bawah pohon yang kering ini?! Jiwa bebas membuat gerak tubuh kita tanpa arah, karena pikiran daya final juga sangat bebas, bahkan pikiran jenis ini merupakan kerajaan dari segala jenis pikiran dalam kehidupan ini. Lalu, bagaimana tubuh fisik ini harus bergerak? Apa aku harus mendiamkan dan membiarkan mulutku berbicara tentang ketinggian–ketinggian yang terselubung di dalam baik dan buruk? Ini adalah nasib besar bagi sang tubuh. Daya final harus memilih jalan untuknya agar Ia pun dapat bekerja dengan baik di dalamnya… di dalam satu unit kecil dari konstelasi alam yang disebut tubuh itu… Andai daya final selalu bebas dan utuh, maka bukankah tubuh bebas berada di mana saja?

Hal ini tentu membuat tubuh tidak dapat mengambil keputusan (gerak). Ia menjadi sangat pasrah dan tergantung pada segala sesuatu di luarnya… Jika memang demikian, bukankah kehidupan tidak pernah ada andai segala unit yang terjalin dalam konstelasi alam ini masing–masing saling mempengaruhi? Juga, tidak akan ada mobilitas apa pun pada segala benda konkret di dalam dunia ini, andai semuanya terlahir telah memahami daya final dan mungkin kelahiran (fisik) itu sendiri pun sebenarnya tidak akan ada…

Maka, sesungguhnya segala hal yang konkret juga sangat menentukan nasib besar dari jiwa bebas daya final… Pertanyaan utama: Kenapa segala benda (fisik konkret) itu ada bersama–sama dengan daya final dalam kehidupan ini?

Tunggu… kutunda dulu pencarian ini dalam pikiranku. Baru saja aku merasa seolah jiwaku turun kepada segala sesuatu di sekitarku: sapi, pohon, goyangan rumput dan sebagainya… Kulihat pohon yang memayungi sepedaku saling berbicara.

Mereka memang tidak memiliki alat indera yang berwujud fisik layaknya manusia, tapi daya final-ku telah turun dan membuat indera fisikku berfungsi layaknya tidak seperti manusia, tapi berfungsi pada tatanan yang lebih general.

“Kita semua sesungguhnya bagian dari kehidupan ini, termasuk campuran logam dan plastik yang membentuk sepeda melalui tangan manusia. Kita semua berada dalam konstelasi segitiga daya final, dan sepeda adalah mahkluk junior dari keluarga besar kita” bisik sang pohon kepadaku sambil dengan lembut menggoyangkan seluruh batang daunnya…

Ya, memang sering kulihat ia menyisir rambutnya itu dengan angin, tidak seperti manusia!… Terakhir, kita berdua saling menatap dan tersenyum, tapi dengan lengkung bibir yang berbeda…

katharsis-holydiary [08092005_(7) 09:30]

05 September 2009

Tanpa Tujuan... Menemukan Pengetahuan Sejati

Memasuki sebuah wilayah baru dengan satu tujuan untuk observasi, adalah tindakan yang mengkhianati sebuah kedalaman pengetahuan. Tujuan itu akan menjadi pengaduk hukum–hukum tersembunyi yang ada di dalamnya. Mari kita memulai dari awal, dengan lembut, langkah demi langkah, kita tuntun untuk berkenalan dengan kulit luar sebuah kota… Pasar (sebuah komunitas), dan ke mana arus ini membawa kita, maka di sanalah letak daripada sumber pengetahuan yang harus kita cari. Sekarang, yang bermasalah adalah jiwa kita. Apakah ia mampu melihat keterhubungan dari segala hal yang sekaligus tidak memiliki sifat memilih–milih objek pengetahuan?!
Kita memasuki arus kehidupan dari sebuah lingkungan, bukan karena kita yang mengaturnya dengan pikiran. Tapi lihatlah, ada hukum–hukum tertentu yang terselubung di sebuah tempat, mereka akan menjulurkan tangannya untuk menyambut kita… Dengan demikian, seharusnya kita terima pula dengan jiwa terdalam. Maka, semuanya akan berlayar bersama untuk menemukan pengetahuan sejati… Itu adalah sebuah kompromi eksistensi antara kita dan lingkungan. Waktu yang dijadwalkan dan segala target hasil haruslah disingkirkan. Karena, itu hanya menimbulkan rasa curiga, salah faham dan terakhir, ia akan melanggar hukum terselubung dari lingkungan itu. Sesungguhnya, semua pekerjaan dapat disebut pekerjaan pengamat kehidupan dan menuliskannya…


katharsis-holydiary [16012004(5)]