Hal ini tentu membuat tubuh tidak dapat mengambil keputusan (gerak). Ia menjadi sangat pasrah dan tergantung pada segala sesuatu di luarnya… Jika memang demikian, bukankah kehidupan tidak pernah ada andai segala unit yang terjalin dalam konstelasi alam ini masing–masing saling mempengaruhi? Juga, tidak akan ada mobilitas apa pun pada segala benda konkret di dalam dunia ini, andai semuanya terlahir telah memahami daya final dan mungkin kelahiran (fisik) itu sendiri pun sebenarnya tidak akan ada…
Maka, sesungguhnya segala hal yang konkret juga sangat menentukan nasib besar dari jiwa bebas daya final… Pertanyaan utama: Kenapa segala benda (fisik konkret) itu ada bersama–sama dengan daya final dalam kehidupan ini?
Tunggu… kutunda dulu pencarian ini dalam pikiranku. Baru saja aku merasa seolah jiwaku turun kepada segala sesuatu di sekitarku: sapi, pohon, goyangan rumput dan sebagainya… Kulihat pohon yang memayungi sepedaku saling berbicara.
Mereka memang tidak memiliki alat indera yang berwujud fisik layaknya manusia, tapi daya final-ku telah turun dan membuat indera fisikku berfungsi layaknya tidak seperti manusia, tapi berfungsi pada tatanan yang lebih general.
“Kita semua sesungguhnya bagian dari kehidupan ini, termasuk campuran logam dan plastik yang membentuk sepeda melalui tangan manusia. Kita semua berada dalam konstelasi segitiga daya final, dan sepeda adalah mahkluk junior dari keluarga besar kita” bisik sang pohon kepadaku sambil dengan lembut menggoyangkan seluruh batang daunnya…
Ya, memang sering kulihat ia menyisir rambutnya itu dengan angin, tidak seperti manusia!… Terakhir, kita berdua saling menatap dan tersenyum, tapi dengan lengkung bibir yang berbeda…
katharsis-holydiary [08092005_(7) 09:30]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar