Selamat Datang di Blog Diary Saya...

Anda dapat menelusuri Tulisan Lengkap saya tentang Proses Utuh Perjalanan Spiritual di:
http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Tulisan saya yang lain :
http://taskm.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label kehendak tubuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehendak tubuh. Tampilkan semua postingan

19 Desember 2009

Pencarian Ke Dalam... Refleksi Keluar

Menjelang siang, kenapa semuanya tiba – tiba menjadi tanpa arah? Sudah sepanjang malam hingga pagi ini, pikiran dan tubuhku terus menggali dan mencari, tapi roh semesta enggan keluar dari gua persembunyiannya di balik segala hutan roh yang halus. Kekonkretan tubuhku yang tenggelam oleh pencarian itu kehilangan kendali, baik ketika diam maupun bergerak… Dengan biji mata yang bergulir ke dalam rimba pikiran, tubuh sesungguhnya terlempar keluar dari dunianya.
Tubuh adalah media seperti halnya bahasa yang diturunkan oleh tubuh itu sendiri… Sebuah media perantara yang merefleksikan alam semesta yang berada di luar ke dalam diri sendiri… Pada saat kelahiran sebuah tubuh, di dalamnya telah terkubur roh – roh yang sangat halus tentang segala benda…
Pencariannya keluar, hanyalah untuk melatih KEsadaran terhadap dirinya sendiri (tubuh) bahwa ada satu puncak yang sama, baik dalam maupun luar. Kusadari sekarang, kenapa perjalananku kali ini tidak dapat terefleksi dengan baik! Ada keinginan untuk mencari di dalam pikiran, sehingga melahirkan keengganan berhubungan dengan alam luar, maka tubuhku sebagai media, kehilangan arah tujuannya… Kusebut ini kondisi yang menggantung. Jangkau refleksiku terlalu sempit, sehingga segala yang lembut dan dalam di sekitar tubuhku pun enggan berbicara ke dalam tempat – tempat terpencil pada semesta kecilku…


katharsis-holydiary [11092005_7]

11 September 2009

Hujan, Kehendak Dalam Seksual dan Akal Budi

Dalam hujan yang lebat dan menyegarkan, manusia kodok... sang betina, keluar, duduk serta menunggu di mulut sarangnya. Kulihat jelas, sel–sel telur di dalam perutnya mengeluarkan listrik perangsang bagi seluruh sel kulitnya. Dengan tangan yang menopang pipi dan sinar mata yang memancar ke segala arah, lalu ia memainkan jari–jari tangannya. Telunjuk di tangan kanan disentuhkan ke setiap celah dari jari tangan kiri. Oh hujan, Lihat! Engkau telah membuat sifat mendamba-nya menyeruak keluar. Dengan bibir berlipat, kedua tangannya perlahan dimajukan ke depan. Ia melenturkan otot–otot pinggulnya agar rangsangannya beralih tegangan. Sebuah puncak impian dari tubuh telah dilewati… Sesaat kemudian, ia ingin tubuhnya dipeluk oleh kehangatan yang lebih keras dan hawa–hawa padat. Telur–telurnya siap dibuahi oleh manusia–manusia kodok jantan… Ya, akselerasi seksual yang tanpa membeda–bedakan!

Ketika salah satu diantara kodok jantan menghampiri, mengoda dan menyentuhnya. Hatinya tiba–tiba terbangun dan memberontak serta membalas “Kurang ajar, kenapa engkau alirkan racun pada tubuh dan pikiranku!” Ini adalah sebuah gerak lempar dua kali dan berbalik… Sebuah kebencian besar pembungkus dari akal budi. Kukatakan: kodok betina ini sudah mandul... Kehendak tubuh yang dikendalikan akal budi pikiran ini sebenarnya sangatlah buruk… Lupa ia pada tugasnya. Ia harus menunggu hujan yang berikut, yang sesuai dengan kehendak listrik dari sel–sel telurnya. Andai seorang perempuan tidak dapat memutar-mutar leher dan matanya, ia akan mengorok–ngorok dan membesarkan otot–otot di lehernya seperti balon, lalu bertingkah laku seperti kodok–kodok betina lainnya di musim hujan…


katharsis-holydiary[18012004(7)]