Pagi ini, aku kembali dari perjalanan pendekku, yang bagiku sangat memuakkan. Empat hari melewati tiga kota dengan tubuh yang menghimpit Roh Semesta. Rasa muak yang memusuhi segala manusia. Tapi, apapun itu, segala kondisi dunia saat ini sedang berada pada lereng yang menurun setelah baru saja melewati puncak… Menurun menuju kehancuran dari sebuah zaman besar yang telah berjalan berjuta tahun lamanya. Ya, sebuah mahkluk raksasa yang aku sebut kesadaran pikiran yang berasal dari akal budi. Ia sebanding dengan mahkluk manusia yang berumur 40 tahun saat ini!!! Salah satu penanda pada usia menuju tua ini adalah kuasa kepemilikan (roh kapital) manusia terhadap segala sesuatu. Sebuah kekuatan dan jalinan besar pun sudah terjadi dari sekumpulan manusia… negara. Bahkan seorang pencari kebijaksanaan pun bisa ditangkap dan dikurung ketika berada di sebuah ruang terbuka di tengah kota. Jalan singkat bagi tubuh pengembara pun terbatasi… sebuah jalan lain haruslah dicarinya, agar ia tetap mengembara…
Tidakkah apa yang dicari melampaui ruang dan waktu? Tidakkah pula Roh Semesta dengan kendali daya final dapat ditemukan kapan saja, di mana saja, dan bagaimana pun caranya?
Maka demikianlah, bagi sang pengembara pada zaman ini: “Temukanlah daya final melalui apapun yang ada di sekitarmu, karena dari mana datangnya segala hal, pengetahuan berlimpah ruah akan datang menghampiri-mu dalam perjalanan menuju Roh Semesta”.
katharsis-holydiary [12092005_(1)]
Tampilkan postingan dengan label roh kapital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roh kapital. Tampilkan semua postingan
29 Desember 2009
17 November 2009
Kegilaan Seorang Seniman
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang semalam, tibalah aku di sebuah kota kecil dimana orang menyebutnya sebagai kota seniman. Dan pagi tadi, setelah kutelusuri sebagian dari kota ini… Sengaja aku menunggu apa yang ingin dikatakan daya final-ku terhadapnya… terhadap segala roh yang beterbangan di kota ini…?
Seperti halnya orang–orang dunia yang berbuat dan mencipta, demikian pula yang terjadi pada kota ini. Segala hal yang dilakukan selalu mengarah pada kegunaannya untuk diperdagangkan, bukan kegunaan untuk mengekspresikan diri… Ada juga yang berkarya untuk mengekspresikan diri lalu kemudian untuk diperdagangkan. Tapi bagiku, kedua jalan tersebut tetap memiliki hubungan yang cacat antara sang manusia dan karya–karyanya. Yang pertama tadi memiliki kecenderungan untuk terjadi pada orang–orang yang memiliki perekonomian rendah, dimana berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Sedang yang kedua, memang lebih mungkin terjadi pada orang–orang yang memiliki perekonomian yang lebih mapan, karena ia memiliki kemungkinan waktu lebih untuk memikirkan karyanya dan tidak memiliki kecemasan terhadap kebutuhan pokok!
Kembali, bagiku ke dua jenis manusia tadi tidak mengerti ekspresi dari segala benda yang digunakannya dalam berkarya. Jenis pertama, benda–benda “disakiti” dan dipaksa untuk memenuhi kebutuhan kuantitas manusia. Dan yang ke-dua, benda–benda “dipaksa” untuk melayani kualitas dari cita–cita dan kegilaan dari sang penciptanya (seniman).
Jenis pertama adalah sang roh kapital, tapi apa sesungguhnya mahkluk jenis ke-dua yang disebut seniman itu?
Seperti seorang Blanco yang terkenal di kota ini. Ia sesungguhnya tidak ada bedanya dengan para pelukis jalanan yang sering kutemui.
Sebuah kompleks bangunan seperti istana telah diwujudkan, tapi selalu kucium aroma kebesaran tidak terletak pada kualitas kegilaannya.
Kebesarannya, seperti pada orang – orang terhormat lainnya, tidak terletak pada kualitas kedalaman dari sebuah karya, tetapi lebih kepada kepemilikan (materi + kehormatan dunia) yang menunjang karya! Inilah sebuah krisis raksasa pada segala pekerjaan: dimana pekerja, hasil kerja, nilai kerja dan sang penilai masing–masing tertipu oleh sesuatu yang sama dalam dirinya sendiri… mmg! Bahkan, setelah ilusi kepemilikan telah dibersihkan dalam diri mereka, masih ada jurang – jurang curam dan jalan–jalan sesat yang tak terlihat pada kualitas kedalaman dari karya itu sendiri. Di dalam sana… di dalam diri Blanco itu sendiri, melalui lukisan–lukisan, dia berusaha memenuhi kehendak dalam seksual-nya yang paling dalam dan paling pribadi… Sebuah variasi kenikmatan ingin disadari, dicari dan dinikmatinya dalam gua–gua hasrat tubuhnya yang paling gelap dan kelam… Sebuah pencarian dan pengejaran yang tiada habis–habisnya… Hasrat seksual yang tak pernah terpuaskan… Terjebak hingga menjelang ajal dalam kebermaknaan liar imajinasi; aku menyebutnya! Dia lupa akan kehidupan. Beginilah kiranya pandangan yang sempit dan dalam dari jiwa segala seniman!
katharsis-holydiary [10092005_(6)]
Seperti halnya orang–orang dunia yang berbuat dan mencipta, demikian pula yang terjadi pada kota ini. Segala hal yang dilakukan selalu mengarah pada kegunaannya untuk diperdagangkan, bukan kegunaan untuk mengekspresikan diri… Ada juga yang berkarya untuk mengekspresikan diri lalu kemudian untuk diperdagangkan. Tapi bagiku, kedua jalan tersebut tetap memiliki hubungan yang cacat antara sang manusia dan karya–karyanya. Yang pertama tadi memiliki kecenderungan untuk terjadi pada orang–orang yang memiliki perekonomian rendah, dimana berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Sedang yang kedua, memang lebih mungkin terjadi pada orang–orang yang memiliki perekonomian yang lebih mapan, karena ia memiliki kemungkinan waktu lebih untuk memikirkan karyanya dan tidak memiliki kecemasan terhadap kebutuhan pokok!
Kembali, bagiku ke dua jenis manusia tadi tidak mengerti ekspresi dari segala benda yang digunakannya dalam berkarya. Jenis pertama, benda–benda “disakiti” dan dipaksa untuk memenuhi kebutuhan kuantitas manusia. Dan yang ke-dua, benda–benda “dipaksa” untuk melayani kualitas dari cita–cita dan kegilaan dari sang penciptanya (seniman).
Jenis pertama adalah sang roh kapital, tapi apa sesungguhnya mahkluk jenis ke-dua yang disebut seniman itu?
Seperti seorang Blanco yang terkenal di kota ini. Ia sesungguhnya tidak ada bedanya dengan para pelukis jalanan yang sering kutemui.
Sebuah kompleks bangunan seperti istana telah diwujudkan, tapi selalu kucium aroma kebesaran tidak terletak pada kualitas kegilaannya.
Kebesarannya, seperti pada orang – orang terhormat lainnya, tidak terletak pada kualitas kedalaman dari sebuah karya, tetapi lebih kepada kepemilikan (materi + kehormatan dunia) yang menunjang karya! Inilah sebuah krisis raksasa pada segala pekerjaan: dimana pekerja, hasil kerja, nilai kerja dan sang penilai masing–masing tertipu oleh sesuatu yang sama dalam dirinya sendiri… mmg! Bahkan, setelah ilusi kepemilikan telah dibersihkan dalam diri mereka, masih ada jurang – jurang curam dan jalan–jalan sesat yang tak terlihat pada kualitas kedalaman dari karya itu sendiri. Di dalam sana… di dalam diri Blanco itu sendiri, melalui lukisan–lukisan, dia berusaha memenuhi kehendak dalam seksual-nya yang paling dalam dan paling pribadi… Sebuah variasi kenikmatan ingin disadari, dicari dan dinikmatinya dalam gua–gua hasrat tubuhnya yang paling gelap dan kelam… Sebuah pencarian dan pengejaran yang tiada habis–habisnya… Hasrat seksual yang tak pernah terpuaskan… Terjebak hingga menjelang ajal dalam kebermaknaan liar imajinasi; aku menyebutnya! Dia lupa akan kehidupan. Beginilah kiranya pandangan yang sempit dan dalam dari jiwa segala seniman!
katharsis-holydiary [10092005_(6)]
Langganan:
Postingan (Atom)
