Selamat Datang di Blog Diary Saya...

Anda dapat menelusuri Tulisan Lengkap saya tentang Proses Utuh Perjalanan Spiritual di:
http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Tulisan saya yang lain :
http://taskm.blogspot.com

31 Agustus 2009

Tentang Sore Hari

Sore menjelang malam… di sebuah pondok aku berteduh. Aku ingin mendengar apa yang akan terjadi pada angin–angin ini… sang pembawa suasana ini. Harus kukatakan: bahwa sore yang paling dalam pada manusia adalah kembali ke kediaman-nya.

Setiap jenis mahkluk memiliki masa aktif dan pasif dalam satu hari, satu bulan ataupun satu tahun. Sore sangat mirip dengan subuh.

Tapi, sore adalah perjalanan menuju subuh. Sore sangat lembut dan bergerak lamban menuju kekuatan dasyat puncak spiritual. Sore, seperti perjalanan transisi memasuki bibir–bibir teluk dari Roh Semesta… Aku lebih senang duduk bersama dia, sang sore ini… Duduk untuk memasuki gerbang malam. Malam adalah waktu untuk beristirahat, pikiran–pikiran perlahan melambat, hingga sang tidur datang untuk bergabung dengannya. Tidur yang bijaksana, kita harus menerima kedatangannya kapanpun di malam hari. Karena ia adalah tamu sekaligus sahabat Roh Semesta dalam wadah puncak eksistensi…

katharsis-holydiary [14012004(3)]

30 Agustus 2009

Roh Semesta Adalah Sang Nihilis?!

Gelisah! Desakan apa ini? Apa keinginan dari semua tamu yang hadir? Mereka semua sedang mencabit –cabit jiwaku. Jika salah satu dari mereka yang aku penuhi keinginannya, maka kebahagiaanku akan tumbuh di sana…
Yang pertama… sang perindu masa lalu, lalu sang pendamba masa depan yang menginginkan kehormatan dan kekayaan duniawi, lalu sang pendamba tubuh, kegilaan serta master tragedi dan yang terakhir Roh Semestaku.
Sekali lagi, apa yang kalian inginkan dariku? Wadah rohku hanya satu. Bagaimana kupenuhi ke enam mulut kalian yang berlahap–lahap seperti ikan mas di kolam, yang tidak pernah kenyang dengan air kehidupan. Semua jalan yang kalian tawarkan, sepertinya meminta pengorbanan... rasa duka yang dapat tersebar ke mana pun.
Tapi, dari semuanya, Roh Semesta, master tragedi dan sang pendamba tubuh-lah yang memiliki daya tarik paling besar. Saat sekarang, ketiga roh inilah yang menggerakkan jari jemariku untuk merangkai tulisan ini. Jika ke tiga mulut ini bergerak, maka tanganku pun ikut bergerak…
Aku curiga, aku sering melihat ketiga roh ini bergandengan tangan sambil jalan–jalan di ketinggian awan, ketika kupandang dari bawah. Tapi, ketika aku mendaki sampai di atas kepala dari segala roh, mereka memisahkan diri dan berjalan sendiri–sendiri. Yang paling sering kulihat berebutan jalan, adalah sang pendamba tubuh dan master tragedi itu… Ketika berebutan jalan, kelakuan mereka menyiksa jiwaku yang paling dalam. Tapi sebagai pelerai, sang Roh Semesta-lah yang selalu mendamaikan semua keributan itu. Lantas, semua tamu jadi ikut berteriak, bahwa Roh Semesta tidak memiliki aturan hidup yang jelas, kenapa manusia, yang jelas–jelas memiliki tubuh masih selalu mencari–cari aturan itu?!

Benarkah demikian? Bahwa Roh Semesta adalah sang nihilis itu... para kebetulan–kebetulan yang menyambar–nyambar dalam kehidupan dengan daya-daya finalnya. Atau pernah kusebut ia sebagai puncak kebermaknaan Roh Semesta… yang harus kita terima dengan kepasrahan yang berumur tua dan egoisme… sang kehendak utama dan kehendak turunan. Inilah yang kudapati akhirnya. Tapi, satu lagi, sesungguhnya Roh Semesta tanpa isi dan tanpa arah. Ia hanya memiliki posisi duduk yang dapat melihat semua sisi kehidupan, terutama ketika berada dalam kekosongannya sendiri.

Roh Semesta bergerak di dalam setiap roh keinginan dan kepasrahan yang netral, serta merupakan puncak dari segala pengetahuan yang kekal dan kesadaran...


katharsis-holydiary [14012004(3)]

29 Agustus 2009

...

Jika manusia masih memiliki nilai positif dan negatif dalam menilai terang dan gelap, maka ia masih memiliki rasa kasih dan rasa benci ciptaannya sendiri, bukan kasih dan benci eksistensi…

katharsis-holydiary [13012004(2)]

28 Agustus 2009

Kegilaan Yang Agung

Merindukan semua yang ditinggalkan dan mendambakan semua yang baru adalah posisi yang paling rawan terperosok dalam kegilaan, tapi sekaligus juga jalan untuk menjadi master tragedi.

Saat ini, diriku berada di antara ke empat kutub itu… Dua yang pertama kadang masih menarik atau menolakku. Dulu, mereka ini pernah mengkhianatiku dan mendorongku ke dalam ruang–ruang hampa, ruang kegelapan hutan, kegelapan lautan dalam, lembah–lembah curam bahkan… jiwaku pernah dipanggang di dalam tungku panas seperti pembakaran periuk adanya. Di dalam sana, arus ke tiga itu, sang abu periuk kegilaan dalam tungku, datang dan menggodaku serta berkata “Engkau dibentuk oleh pengrajin tanah liat yang buruk, campuranmu adalah campuran terkutuk dan tertolak. Kutukan untuk menjadikanmu tumpukan abu. Ada baiknya lepaskan jiwamu, karena retak tubuh jiwamu sudah kelihatan. Kembalilah ke takdirmu... kegilaan terhadap segalanya”.

Aku memang menyerah… menyerah kepada kepasrahan yang melampaui kegilaan pecahan–pecahan periuk itu. Mungkin, dunia mereka ini adalah neraka, dalam hatiku berkata. Kepasrahan kepada tragedi yang berlarut–larut, kemudian mengantarku berkenalan dengan seonggok roh yang melampaui wujud. Ia tinggal di puncak–puncak api. Puncak–puncak dalam pada abu yang paling hitam. Bahkan, ia terselubung di dalam sang penghuni tungku dan sang pengrajin periuk itu sendiri… Siapa dia sesungguhnya? Sang master tragedi; kupanggil dia kemudian! Ia mengajariku agar tangan–tangan jiwaku menjadi lincah untuk membuka topeng–topeng para perindu masa lampau dan masa depan tadi, Ya… sang pendamba yang ditinggalkan dan yang akan datang itu. Lalu, untuk kegilaan, ia bukanlah sebuah arus yang perlu dibenci dan dihindari. Sebenarnya ia sejajar dengan dua tamu yang pertama tadi. Bagi master tragedi, mereka bertiga memiliki kegilaan yang berbeda–beda, yang perlu dikasihani… demikianlah!

Sampai sekarang, telah kumunculkan jiwa sang master tragedi di dalam jiwaku. Ia adalah pejalan lamban yang cara jalannya sangat berbeda dengan cara jalan sang pendamba masa lalu dan masa depan. Suatu saat yang paling hening, di kedalaman hutan yang paling rimbun, kudengar ia ingin menolak segalanya… Ia, sepertinya memiliki muslihat untuk menumpuk gunung tragedi dalam jiwaku sekarang. Ia menuntut sesuatu. Aku fahami benar, bahwa keahlian memanfaatkan tumpukan tragedi adalah jalan tercepat menuju semesta kebijaksanaan, yang kemudian menghasilkan karya–karya yang bernafaskan kearifan hidup.

Tapi, sang master tragedi ini perlu dijinakkan. Ia harus dipertemukan dengan satu tamu lagi yang dapat mengendalikan keliarannya dalam mencari kebijaksanaan. Karena, di ujung terdalam dari keahlian sang master tragedi ini memiliki kegilaan yang lain, yaitu kegilaan yang agung…
Tamu terakhir yang tiba tadi... kunamakan Roh Semesta! Sesungguh-nya roh terakhir ini, terdapat di dalam diri setiap manusia, bahkan segala sesuatunya.
Ada tragedi yang datang dengan sangat kebetulan dan menumpuk, ia yang kita cari kebijaksanaannya. Tapi, ketika mengetahui jalan rahasia ini, kita perlu kebijaksanaan lebih besar untuk mengendalikan nafsu ini. Karena ia akan berbalik, untuk merencanakan dan menumpuk tragedi demi mencapai kebijaksanaan lebih cepat. Maka, berhati – hatilah! Inilah roh terakhir yang perlu kita waspadai… Kegelisahan untuk mengabarkannya kepada seluruh dunia… Gunung kebijaksanaan yang menggila…” Demikianlah, sabda Roh Semestaku yang terakhir... dan terutama kepada orang – orang suci!


katharsis-holydiary [13012004(2)]

19 Maret 2009

Desakan Untuk Menemukan Jalan Baru

Kemalangan–kemalangan besar pernah menimpaku bertubi–tubi. Mereka mendesakku untuk menampung semuanya dengan hati terbuka. Terpaksa sekali, dengan pundak memikul gunung, kubuka jalan–jalan baru. Ilalang sedemikian tinggi harus kubersihkan dengan tangan kosong. Tangan–tanganku diharuskan berfungsi seperti cakar elang, kaki–kakiku dipaksa berjalan di hamparan pasir apung, yang keahliannya harus melampaui kaki kuda yang gesit. Dan kemudian, kepalaku didesak untuk melihat kaku ke depan, karena yang di belakang selalu menolakku.
Lama kelamaan, aku jadi lupa pulang, lupa bagaimana cara menempuh jalan–jalan lama. Jalan baru yang kutemukan ini adalah jalan–jalan kecil yang seolah tak berujung. Maka, sekarang akulah yang mengejar-ngejar kemalangan, yang hasilnya adalah kesenangan–kesenangan yang membuntutiku. Lalu, di atas ketinggian, kurasakan kesenangan ini sebagai kemalangan yang sebenarnya…Kadang, dengan mengendap–ngendap, kesenangan itu datang menghampiri, dan kulahap ia layaknya seorang manusia. Tapi kadang kubentak ia, ketika ia malu – malu untuk berkunjung. Bentakanku kususuli dengan hinaan–hinaan dan makian, agar ia segera memunculkan wujud malaikatnya… wajah yang penuh kemalangan!


katharsis-holydiary [12012004(1)]

...

Siput–siput laut… si mungil yang menempelkan diri pada karang.
Sore menjelang, ombak–ombak membesar. Tapi mereka tidak mampu mencapai pemukiman para karang… Akar–akar ombak tertahan karang, kaki–kakinya patah karena menabrakkan diri pada batu karang. Mereka tidak dapat sampai ke hadapanku ternyata. Akan kusaksikan dari jauh... bagaimana peranggai mereka selanjutnya?!

21 Februari 2009

Pembicaraan Dengan Batu Karang Tentang Roh Semesta

Di atas dudukan batu karang ini, ada suasana asing yang bertiup langsung ke arahku. Bukan karena kekuatannya, tapi ada perubahan besar yang memaksa, yang harus kusesuaikan dengan tubuhku, agar ia dapat bertahan.

Pohon–pohon yang hidup di antara karang, aku yakin diri mereka adalah jenis–jenis yang memiliki hati yang setegar karang. Hidup ratusan tahun… dan batu–batu karang ini, mereka hidup dan membesar dari air laut. Mereka adalah mahkluk hidup yang berumur panjang, tapi aku tidak pernah menginginkan umur panjang mereka. Aku harus menjalani takdirku sendiri menuju Roh Semesta. Letak takdir semua mahkluk adalah menuju Roh Semestanya masing–masing, tetapi cara dan jalurnya berbeda–beda. Kutantang pada batu–batu karang:
“Dengan masa hidup yang panjang, apa kalian sudah menemukan Roh Semesta-mu sendiri?”.

Semua yang hadir, kudengar pembicaraan dengan bahasanya masing–masing. Tapi masing–masing dari mereka, yang kutangkap adalah besar kecilnya suara. Tekanan suara universal yang berubah karena saling mempengaruhi. Tekanan suara, kuat tidaknya sebuah wewangian, panas tidaknya sesuatu dan tinggi rendahnya sebuah objek adalah lebih esensial dari pada bahasa penanda yang dimaknai sendiri…

Baru saja kusaksikan cara terbang seekor elang, mengagumkan! Di dalam bingkai cakrawala biru yang luas, ia melayang mengimbangi angin. Persis seperti Roh Semesta-ku yang sedang berenang dalam lautan hati yang jernih. Sangat stabil kuperhatikan ekor dan sayap–sayapnya. Ia bukanlah penerbang yang baru belajar. Sulit perumpamaanku kupasangi sayap–sayap yang menyerupai sayapnya, Sungguh!


Kebudayaan mengubur adalah ilusi tersendiri. Lihatlah semua yang hidup dan yang mati. Semua itu harus berjalan bersama. Batang–batang dan dedaunan pohon yang menua, jatuh di antara bebatuan yang sedang menikmati kebahagiaannya dalam membelah diri. Batu yang berkembang biak. Maksudku: mereka memiliki masa kehamilan yang paling lama di antara seluruh mahkluk bumi. Tidak adakah duka di antara mereka? Dedaunan membusuk menggemukkan badan dari batu. Sedangkan batu membentuk jalur-jalur air untuk tetumbuhan. Pemukiman dari bebatuan ini baru saja membisikkan kepadaku, bahwa mereka semua dalam masa–masa subur... masa–masa dimana sedang membentuk alur–alur pada tubuhnya.

Tapi kukatakan pada mereka, “Bukankah kehamilan kalian berlangsung sepanjang abad. Kapan kalian akan berhenti beranak?”

Lalu salah satu dari mereka menggelinding ke hadapanku dan berkata “Dunia ini ada, dengan kehendak utama berkembang biak. Engkau sendiri, apa yang engkau lakukan di kediaman kami. Bukankah engkau ingin belajar dari kami? Lalu ajaran itu beranak dalam pikiranmu dan engkau kembang-biakkan ke dalam pikiran mahkluk lain?”

Kalau memang demikian, berarti para karang–karang ini beranak di dua tempat dengan satu dorongan. Menghasilkan anak dalam pikiranku dan menghasilkan anak dari tubuh keras mereka. Anak–anak pikiran adalah anak–anak menuju Roh Semesta. Dari segala mahkluk anak pikiran ini, ketika mereka bersikap tanpa membedakan, maka terbukalah jalur menuju Roh Semesta. Yang kemudian mengendalikan anak dari tubuh yang masing–masing sesungguhnya adalah terpisah.


katharsis-holydiary[12012004(1)]

19 Februari 2009

Laut Dalam dan Puncak Gunung

Kemenjadian… dari ombak–ombak besar, dipecah oleh barisan–barisan karang di bawah air, lalu jadilah mereka anak–anak ombak yang memiliki kekuatan yang lemah. Sebaliknya, kerajaan batu karang semakin dekat dan menguat menuju gunung. Puncak gunung dan laut dalam adalah tempat–tempat para sesepuh mahkluk bermeditasi.
Di dua tempat inilah ada nasihat alam yang mengkristal. Ini dikarenakan kondisinya yang paling sedikit berubah... Kondisi di mana masing–masing dari mereka memiliki kekerasan dan endapan yang paling tua.

Dengan demikian, banyaklah roh pemikiran yang bersemayam di sana.

Kita mahkluk hidup, berjalan di antara keduanya. Maka, ujian keberadaan Roh Semesta kita yang terakhir adalah pergi kepada dua sesepuh ini, sang intan dan sang mutiara. Yang masing–masing paling akrab dengan pusat langit dan pusat bumi…




katharsis-holydiary[12012004(1)]

13 Februari 2009

Tentang Kemenjadian

Jauh ke selatan adalah pinggiran pantai… jalan setapak kutelusuri.
Batu karang yang begitu banyak. Pagi hari ombak sedikit ganas, tapi menjelang siang mereka lebih tenang. Karang, ya, aku sedang menunggu apa yang ingin mereka ajarkan hari ini. Siapa yang mampu memecahkan kalian? Sedemikian kerasnya. Aku akan membuat kalian bergetar saja dengan perumpamaan–perumpamaanku…

Kalian memang keras dan selalu berdiri tegar membentuk gunung. Lalu, beberapa dari kalian berubah menjadi sesepuh intan permata. Begitu lama waktu yang kalian perlukan. Demikian denganku sekarang. Aku masih seperti kalian… seperti anak–anak karang! Tapi kukatakan: sebenarnya pikiran–pikiran kalian sudah sangat tua, dibanding orang tua manapun. Aku seperti kalian, yang masih belajar untuk menjadi intan. Intan adalah puncak ajaran kalian. Bukan hanya karena pancarannya yang indah ketika terkena cahaya matahari, tapi karena keras-nya ajaranmu yang tertutup… tertutup di bawah anak–anak karang.

Suatu saat nanti, aku akan menjadi intan… Tulisan–tulisanku itu, ia sedang belajar memanjat sekarang.

Dunia ini adalah dunia kemenjadian. Segala tubuh adalah penanda waktu, tapi jiwa dapat melampaui waktu. Dua–duanya bukanlah patokan. Yang harus kita cari adalah bagaimana cara kita menunda dan melampauinya. Waktu dan ruang eksistensi-lah jawabannya. Cara gerak ayam adalah transisi hewan darat ke udara, manusia ke burung dan di antara ketiganya masih banyak mahkluk lain. Mahkluk – mahkluk lain… itulah kemenjadian!

katharsis-holydiary[12012004(1)]

11 Februari 2009

Bintang Raksasa

Gentar Roh Semesta… ketika santap malam, kulihat bintang raksasa di sisi barat. Sepertinya aku melihatnya bergerak. Sinar yang terang benderang, lalu meredup dan menghilang. Tidak lama ia muncul lagi dan menjadi terang, demikian seterusnya. Ada apa ini? Takdirku untuk menggapaimu? Kenapa hanya aku seorang yang ditunjuk untuk menyaksikanmu? Sungguh aku dipermainkan… terlalu kebetulan. Aku kesulitan bercerita tentang dirimu di dalam diriku sendiri, wahai tamu asing yang agung! Terlalu tinggi kucarikan perumpamaan untukmu. Maka, kubiarkan saja Roh Semestaku duduk dan menyaksikanmu dengan mulut ternganga dan mata melotot…

Pertemuan dengan sesuatu, menurut Roh Semesta tidak dapatlah dikatakan berkisar sebagai alat, sahabat, teman hidup, saudara atau pun lainnya. Tapi ia berkisar: di antara semua itu. Ada yang hanya sekedar menatap, ada yang hanya berbicara dua patah kata, ada pertemuan yang dikarenakan untuk memenuhi satu bagian dari tujuan, ada pula yang dipertemukan untuk bertengkar, bahkan yang paling sering adalah yang hanya lewat di hadapan kita…

katharsis-holydiary[11012004(7)]

08 Februari 2009

Tentang Kata-kata (I)

Menulis, merangkai kata–kata perumpamaan adalah anak–anak tanggaku untuk melihat sesekali ke dalam kediaman Roh Semesta. Kata–kata selalu melambungkan aku. Kedua kakiku seperti dipasangi pegas, lalu aku meloncat tinggi–tinggi. Di ketinggian sesaat itu, kucium langit–langit kebijaksanaan dan kuhirup dalam-dalam udaranya. Agar ketika turun nanti, sebelum menyentuh tanah, aku dapat meniupkan udara suci itu ke seluruh bumi. Terutama ke dalam setiap jiwa mahkluk yang bernafas dan membebaskan serta mengusir setiap roh yang mengikat.
Lingkar pegas dan panjangnya adalah makna dari kata-kataku yang harus kunyanyikan dan kuambil secara acak dari tempat–tempat yang jauh. Semakin jauh, maka loncatan ke udaraku akan semakin bebas. Begitulah… andai kata–kata yang terkubur paling dalam datang berkunjung dengan jalan gontai dan tertatih–tatih, lalu menjerit ingin menjadi tangga pijakanku... Itu juga menjadikan terbang naikku semakin lincah.

katharsis-holydiary[11012004(7)]

07 Februari 2009

Keburukan Yang Direncanakan

Kebetulan–kebetulan adalah bahasa kebijaksanaan. Pertemuan kita dengan segala sesuatu di luar kita tanpa perencanaan, sebenarnya lebih berguna dari pada apa yang kita rencanakan. Kekecewaan, kesedihan, frustasi dan putus asa serta setumpuk nilai–nilai negatif lainnya adalah musuh–musuh yang semakin menguatkan kita. Tapi, bagiku tidak hanya sekedar itu. Akan kubalikkan segalanya! Akulah yang akan merencanakan kapan datangnya musuh–musuhku dan hal–hal buruk tersebut. Lalu kebetulan–kebetulan dari semua itu adalah sahabat–sahabat yang datang… Namun, mereka–mereka yang datang ini, kubiarkan terlantar dan kelaparan dulu. Aku menunggu sampai sifat bengisnya muncul. Kebengisan yang berkehendak. Dan akhirnya, jadilah mereka musuh–musuh yang berkehendak, yang kemudian bergabung dengan musuh–musuh hasil rencanaku. Bukankah ini akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar, yang dapat berlipat–lipat sampai akhirnya semua tidak dapat berlipat. Di sanalah letak bukit tempat duduk sahabat sejati kita… Kebahagiaan Roh Semesta, aku menamakannya!

katharsis-holydiary[11012004(7)]

06 Februari 2009

Dua Jenis Kebahagiaan Dalam Satu Kehidupan

Oh Roh Semesta… kenapa kemiskinan dan kesederhanaan begitu mirip denganmu? Sering kulihat, engkau bersembunyi di belakang semua itu! Dan pernah aku menangkap tingkah lakumu yang sangat pendiam. Apa diam begitu lama tidak membunuhmu suatu hari nanti? Ketidak pedulianmu itu membuatku bingung dalam menjalani hidup, tapi di dalamnya ada kedamaian yang melampaui segalanya. Aku sedang mencari momen–momen dalam keseharian, supaya nantinya dapat sejajar dengan ketidak pedulianmu. Sungguh sulit! Kesulitan ini bukan terletak pada diriku, sudah pernah kulalui. Kesulitanku terletak pada kebahagiaan orang lain. Aku dapat membaca puncak-puncak kebahagiaan orang lain dibanding mereka sendiri. Jika aku memang memiliki timbangan alam yang paling adil, kebahagiaan orang lain memiliki makna sepenuh maknaku mengenal Roh Semesta. Dan aku, orang–orang itu meletakkan kebahagiaannya di dalamku, lalu bagaimana sebaiknya aku harus bersikap? Sedangkan aku memiliki kebahagiaan yang tidak dapat ditampung oleh hati umat manusia manapun. Kebahagiaanku dapat membunuh kebahagiaan kecilmu, wahai manusia?! Haruskah kebahagiaanku kukecilkan juga, agar dapat bergabung dengan kebahagiaan para manusia? Duduk bersama dengan mereka, mabuk bersama serta berteriak histeris ketika melihat mahkluk setan datang membawa golok maut untuk mengadili…

Tapi, sesungguhnya di dalam kebahagiaan para manusia terkubur kebahagian Roh Semesta. Apakah engkau merasakannya, wahai para manusia?!

Roh Semesta telah memilih diriku... Itulah jalan hidupku!

katharsis-holydiary[11012004(7)]

05 Februari 2009

Beban Kebahagiaan

Kebahagiaanku seperti berada di atas seutas tali. Ia harus pandai memainkan keseimbangan tubuhnya, karena kebahagiaan–kebahagiaan lain juga berebutan naik ke atas bentangan tali ini. Inilah keadaan jiwaku saat ini. Semua jenis kebahagiaan berada pada satu jalan, yang secara bersamaan menghasilkan beban yang demikian berat… Bebanku bukan karena kerumitannya yang tidak terlihat, bebanku juga bukan karena kepenuhan. Tapi, bebanku dikarenakan semua kebahagiaan itu ingin meniupkan puncak – puncak maknanya yang terdalam… Oh hujan, engkau juga menjadi salah satu dari mereka!

katharsis-holydiary[11012004(7)]

03 Februari 2009

Kebermaknaan Duniawi... Kebermaknaan Roh Semesta

Hujan! Membawa kita ke atas, agar dapat melihat dengan jelas. Tapi janganlah engkau menajamkan kuku dan menancapkan cakar di ketinggian itu, karena akan tumbuh cita–cita buruk.
Kesementaraan di atas, untuk melihat keindahan di bawah. Lalu turunlah ke bawah untuk mengalir bersama keindahan itu sendiri. Inilah yang ingin kunyanyikan kepada semua manusia yang merasa miskin materi. Pelapis kaki yang lusuh dan tubuh yang berbau keringat bercampur sinar matahari.
Kebermaknaan yang tidak bermakna… Sungguh! Bagaimana aku harus memperlakukan dua hal ini? Semuanya seperti satu, fana memang! Kebermaknaan seperti kesetiaan yang ada di dunia manusia, tetapi ketidakbermaknaan di dunia Roh Semesta. Apa yang mereka ributkan? Ketika mereka berebutan tempat dalam layar pikiran ini, di sanalah beban terberatku. Aku melihat sebuah bayang – bayang kebahagiaan yang aneh di balik perkawinan dua anak manusia. Ia jadi aneh dan salah tingkah karena tubuhku terpaut keinginan. Andai keinginan ini dipenuhi, aku merasa hal ini akan menjadi semakin aneh…


katharsis-holydiary[11012004(7)]