Selamat Datang di Blog Diary Saya...

Anda dapat menelusuri Tulisan Lengkap saya tentang Proses Utuh Perjalanan Spiritual di:
http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Tulisan saya yang lain :
http://taskm.blogspot.com

12 Oktober 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (6)

Dorongan belajar yang paling murni, berada di luar panggilan waktu akademik dan diri kita…

katharsis-holydiary (kumpulan epigram)

25 September 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (5)

Administratif Kehormatan adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan, agar kita ditinggikan. Lalu dari ketinggian, marilah kita turun untuk merendahkan diri… agar kemudian ketinggian kita memiliki tanduk untuk menyeruduk segala kebenaran …Sebuah bisikan roh bagi Pengajar Dunia …Sadarilah itu!

katharsis-holydiary [kumpulan epigram]

24 September 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (4)

Semakin pikiran menuju ke kedalaman eksistensi, semakin pula kita tidak dapat memilih apa yang ingin kita tulis dan bicarakan… karena di dalam kedalaman itu segala sesuatunya menyatu…

katharsis-holydiary [kumpulan epigram]

23 September 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (3)

Adalah pekerjaan yang tersulit: mengendalikan bendungan pengetahuan yang jebol dan mengalir ke mana–mana… tetapi tidak ada satu pun hidung yang mampu mengendusnya…

katharsis-holydiary [kumpulan epigram]

22 September 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (2)

Pengajar yang tidak tahu apa–apa tentang lembaga belajar, adalah pengajar yang memahami apa sesungguhnya belajar

katharsis-holydiary [kumpulan epigram]

21 September 2009

Kritik Kepada Kaum Terdidik (1)

* Sistem Penilaian adalah sesuatu yang tidak mungkin dan mustahil… yang malah selalu membuat semua mata rabun terhadap makna kehidupan. Bagi seorang pengajar yang melampaui kehendak dunia, penilaian hanyalah sebuah jembatan untuk menceritakan tentang posisi kemungkinan segala nilai. Bahkan …kebodohan pun tidak lebih buruk daripada kecerdasan seseorang…

Katharsis-holydiary (Kumpulan Epigram)

20 September 2009

...

Pertama dan terakhir, sedemikian singkat, tapi keduanya adalah kebahagiaan terdalam sekaligus duka terdalam. Masa–masa seperti itu adalah masa–masa yang esensial... Kedalaman dari keduanya mampu membuat aku meloncat ke dalam jiwa terdalam manusia… Pencampuran dimensi waktu! Sungguh aneh, potongan–potongan waktu yang pernah kuloncati itu. Aku seperti pingsan dalam waktu yang lama. Segala hal yang pertama dan terakhir selalu merangsangku untuk merangkai perumpamaan–perumpamaan yang dalam. Oh, segala yang kutinggalkan di masa lalu dan perjalanan jauh itu… Aku merindukan semuanya, tapi semangatku untuk berpamitan dan melewatkan setiap selamat tinggal, ternyata lebih besar…

Pernah suatu kali terakhir, aku memagari diriku dalam berhubungan dengan orang lain. Tidak perlulah kita mencari–cari orang untuk berpamitan. Ada baiknya kita meninggalkan sebuah tempat seperti biasanya, agar momen yang akan kita jalani kemudian menjadi yang pertama dan berperumpamaan emas…

Masa laluku… aku merindukan semua hal, terutama tugasku untuk menyembuhkan kebutaan dalam kehidupan… seberang lautan... sedemikian jauhkah engkau?…


katharsis-holydiary

19 September 2009

Penderitaan Yang Dibiarkan Diam

Masa lalu yang dalam... mmh! Ada intan yang terkubur di dalam gunung sekaligus perangkap – perangkapnya. Kita harus berhati – hati! Atau kulihat semuanya terdorong ke dalam kondisi yang mengenaskan. Barang siapa yang dapat menikmati penderitaan yang berlarut–larut, ia akan menemukan kebahagiaan yang dalam pula. Penderitaan yang berlarut–larut, bukan karena sebuah dorongan untuk lebih ambisius dalam mengejar materi dan egoisme. Tapi, penderitaan yang berlarut–larut dan menerpa terus menerus yang dibiarkan diam… Tunggu hingga saatnya nanti, ada gelombang kebahagiaan lain datang menghampiri. Ia bukan kebahagiaan karena kita memperoleh sesuatu di dunia, melainkan memperoleh sesuatu di dalam tingkat–tingkat pikiran... tingkat–tingkat yang semakin dalam… dan menyatu

katharsis-holydiary[22012004_(4) 06:00]

18 September 2009

Menuju Esensialitas Dari Yang Banyak Dan Satu

Segala sesuatu yang berjumlah banyak dan sedemikian berharga untuk-ku sebenarnya karena aku memiliki keinginan besar yang melampaui tubuh dan pikiran. Kulihat yang berjumlah banyak itu tidak akan habis kuteguk dengan tubuhku yang memiliki umur terbatas, maka dari yang banyak harus kupilih satu dan kucari esensialitasnya… Karena banyak dan sedemikian aku menghargainya, maka hal demikian mendorong semangatku untuk mencari sebuah makna yang paling dalam. Sebenarnya sebuah kedalaman tidak terletak pada jumlah yang banyak atau sedikit atau satu... Lebih esensial makna yang membuat kita memenuhi kepuasan akan keinginan kita yang melampaui banyak. Ada baiknya satu, karena di kedalaman dari yang satu ini terdapat yang banyak dan melampauinya… Menuju esensialitas dari yang banyak dan satu… Sepertinya inilah makna kesetiaan terdalam dari sebuah perkawinan. Kesetiaan terdalam yang bukan karena sedemikian banyak kenangan yang menumpuk atau yang melampaui ketertarikan fisik pada akhirnya. Tetapi lebih kepada sebuah kehendak utama yang mencari – cari di mana letak pusat ikatan itu…
Roh Semesta dan pikiran, haruslah bekerja sama dalam diri manusia. Karena di dalamnya ada makna kesetiaan tertinggi. Tidak seperti binatang yang memiliki insting… Letak insting binatang ada di antara Roh Semesta dan pikiran. Apakah binatang memiliki jalan lebih singkat menuju Roh Semesta? Tidak juga. Kehidupan alam yang liar dan memiliki satu hukum peradaban tertentu membuat mereka berbeda dari manusia. Perbedaan ini semakin mencolok karena mereka tidak memiliki pikiran... atau sebagian kecil saja. Binatang memiliki insting untuk berkarya, artinya mereka punya sesuatu yang berbeda dari pikiran manusia yang juga mampu berkarya…
Binatang memiliki cara tersendiri untuk menuju Roh Semesta dengan menjalankan kehendak utama dan turunannya sendiri…


katharsis-holydiary[22012004(4)-06:00]

17 September 2009

Pekerjaan... Jalan Menuju Eksistensi Terdalam18

Sistem kapitalis… sudah sedemikian dalam menancap. Manusia sebenarnya tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata–mata terpaksa, sebagai syarat untuk hidup. Jika demikian, maka pada hakekatnya manusia akan terasing dari dirinya sendiri dan orang lain…
Kreativitas menjadi esensial, bahwa produksi massal mengarah kepada pelanggaran eksistensi, bukankah demikian?

Hal ini terjadi karena jumlah penduduk meledak, dan selanjutnya cara berhubungan seksual juga seperti mesin cetak, bukan sebuah kreasi eksistensi. Kenikmatan sistem kapitalis pada seorang pekerja sudah mendunia pada zaman sekarang, sehingga metafisika kuantitas-lah yang tercetak di dalam jiwa setiap orang. Seperti kata–kata: banyak, cepat, nikmat dan jelas adalah deretan kata–kata yang dibutuhkan untuk sebuah mesin cetak. Bagaimana mungkin hakekat jiwa terdalam menjadi seperti sebuah mesin. Ya, sudah sedemikian dalam hal ini menancap ke pada naluri umat manusia… Bahkan dalam naluri bereproduksi pun dilanggar oleh jiwa mesin cetak itu. Jangan–jangan mutasi pikiran dan tubuh dari setiap bayi yang lahir dicemari oleh roh semacam ini?!

Untuk Marx: struktur sosial bukanlah akar dari segala permasalahan. Ia memang menjadi akar dari segala permasalahan ketika kapitalisme mendaratkan cakarnya ke seluruh bumi. Andai kapitalisme tidak ada, maka otomatis metode ilmiah pun tidak ada… Adalah pertanyaan untuk akar dari segala permasalahan, apa sebenarnya?

Tentang kelas, bagaimana pun juga akan ada dan akan terjadi dengan sendirinya. Hanya saja, dalam jiwa terdalam, kita harus memperjuangkan tiap lembar jiwa kita agar tindakan–tindakan kita tidak menganggap itu sebagai sebuah perbedaan yang harus dibedakan. Melainkan perbedaan yang secara eksistensi terjadi dalam kehidupan nyata, yang harus disadari dengan jiwa terdalam. Maka, perjuangan hidup keseharian kita untuk menuju jiwa terdalam, ada pada pekerjaan kita sehari–hari… Pekerjaan di sini berarti segala tindakan kita. Misalnya: bernafas, tidur, melukis, memasak, mengangkat barang, melihat dan bahkan berpikir…

Jadi, pekerjaan di sini ada dua, yang pertama memenuhi kehendak utama: makan, tidur, menghasilkan keturunan, minum, bernafas, bergerak dan lain–lain. Sedang yang ke-dua adalah turunan dari kehendak utama: melukis, membaca, memahat, membangun rumah, memasak dan lain–lain, yang sebenarnya semuanya adalah bersifat eksistensi menuju ke dalam dan berantai.

Bayi yang lahir: pada hari I, sebelum bertindak, ia sudah memiliki kehendak utama. Tapi pada momen yang sangat kecil berikutnya dan seterusnya ia secara perlahan–lahan belajar dengan pikiran untuk menjalankan turunan kehendak utama-nya (kehendak turunan) sampai ia meninggal…


katharsis-holydiary[18012004(7)]

16 September 2009

Kemuliaan Yang Terbalik

Kemiskinan yang membengkak selalu mengundang cawan belas kasihan kepenuhan… Menumpahkan air belas kasihan ke dalam cawan kemiskinan bukanlah pekerjaan yang mudah bagi mereka yang berlebihan materi dan berjiwa dermawan. Selalu kulihat, rasa belas kasihan mereka mengundang petaka… petaka kelumpuhan bagi kedua bela pihak, yang memberi dan yang menerima.

Yang memberi merasa tinggi dan berniat mengajak sebuah kerendahan untuk menjadi tinggi… ketinggian yang berhati mulia, orang–orang menyebutnya! Tapi, bagiku itu semua adalah kemuliaan yang terkutuk… Kemuliaan yang terbalik… Sudah sedemikian tercemar kata “kemuliaan“ itu bagiku… Sedang yang menerima merasa rendah sehingga bercita–cita menjadi tinggi. Kawanan korban yang bernafsu… Apakah begitu menyedihkan engkau memandang kerendahan dari kemiskinan? Inilah pertanyaanku bagi mereka ini.

Tinggi dan rendah yang baru saja kubicarakan memiliki satu jenis ketentuan. Masih banyak jenis tinggi dan rendah lainnya di dunia ini. Dari semua jenis, bagiku hanyalah anak–anak tangga yang lapuk dan anak–anak tangga bayangan, yang kemudian menjadi pijakan sementara untuk-ku. Sesungguhnya sangatlah terpaksa aku menempelkan tapak kakiku di permukaan mereka. Terpaksa sekali aku belajar untuk menjadi pembohong besar… sebuah pangkat dari kemuliaan…


katharsis-holydiary[18012004(7)]

15 September 2009

Jawaban Dari Pencarian Yang Tanpa Jawaban

Bertanya terus–menerus dan mencari alasan pertama dari sebuah tindakan yang berakibat berantai, sebenarnya tidaklah ada jawabannya. Pencarian dan pergerakan terus–menerus itu sendiri adalah jawaban yang sebenarnya. Pada akhirnya, kita akan sangatlah terlatih dalam pencarian itu, bergerak serta berubah dengan sangat cepat. Sesungguhnya ini adalah sebuah pencarian akan refleksi dan sebuah proses menuju penyamaan diri dengan semua mahkluk di bumi. Pencarian itu terpaksa bergerak cepat dan singkat hanya karena dibatasi oleh tubuh… Tubuh sangat lamban… pikiran lebih cepat... tapi Roh Semesta lebih cepat lagi, yang dapat dikatakan sebagai kesetaraan atau kesamaan gerak dengan seluruh mahkluk hidup. Sebuah esensialitas keadilan ada di sana. Barang siapa ingin mencapainya, perjalanan panjang akan terjadi, dan beban–beban akan semakin berat di sepanjang perjalanan tersebut. Kita akan semakin peka dan mampu mendeteksi setiap tindakan dalam mental kita, terutama pada saat mengambil setiap keputusan dalam kehidupan sehari–hari. Baik dalam mengunjungi suatu tempat, bertemu seseorang, kapan berbicara, seberapa lama berbicara, mencari pasangan, diberi gelar penghormatan dan semuanya… Inilah yang kurasakan!

katharsis-holydiary[18012004(7)]

14 September 2009

Kesendirian Yang Meng-herankan

Kesulitan bergaul... semuanya membosankan. Itulah yang kurasakan saat ini. Adalah satu kesatuan; bahwa orang – orang yang memiliki pemahaman yang dalam, selalu menghindar dari keramaian pesta. Bukan karena tidak ada yang mengerti pembicaraannya, bukan juga karena mempertahankan cara berpikir, tidak tahu kenapa ia menjadi demikian… kesendirian yang mengherankan!

Hanya ingin duduk sendiri, tanpa berpikir dan menghindar dari orang banyak. Penampilan, pesta, jalan–jalan rekreasi bersama, semuanya jadi membosankan. Apa penyebabnya karena banyak keinginan dari masa kecil yang tidak terpenuhi? Sehingga beralih untuk berpikir tentang nasib buruk yang menimpa dan bertahan di sana, di dalam kekosongan. Sudah terlalu banyak nilai yang lepas dariku. Sehingga adalah sulit, untuk hidup dalam keramaian yang nilai–nilainya masih tumpang–tindih. Inilah yang terjadi pada filsuf – filsuf sejati. Mungkin ini sejenis penyakit syaraf… penyakit syaraf yang dicita–citakan banyak orang untuk menghadapi kehidupan yang fana ini!


katharsis-holydiary[18012004(7)]

13 September 2009

Musik di Dalam Waktu

Telah kulewati begitu banyak sore di dunia ini, melewatkan dan menikmati siksaan yang menghimpit. Banyak berlian menggelinding di sekitarku, tapi arusnya tidak sesuai dengan waktuku. Andai kuceburkan diri ke dalam, maka perlu waktu yang lama agar ia menjadi satu arus aliran... Tapi tunggu, kenapa ada dua kehendak yang selalu meributkan waktuku? Roh Semesta dan roh tubuh… Bukankah mereka berdua berasal dari satu aliran? Benar adanya, atau itu bukan roh tubuh, tapi nafsu liar yang melabrak ke segala arah… Benar juga adanya. Mari lakukan kehendak utama dan turunan, lalu biarkan roh tubuh yang menuntun. Sepertinya: melewatkan, menemui dan bersama, ada iramanya. Semua itu saling merangkai dengan sebuah irama dan tempo Roh Semesta… Ada lagu di dalam waktu. Lagu yang tidak berisi suara, yang hanya memiliki 2 not: gerak dan diam, yang saling berpilin menjadi satu. Rangkaian gerak dan diam yang seperti apa? Mengikuti kesadaran...

katharsis-holydiary[18012004(7)]

12 September 2009

...

Selepas hujan, wangi sari tetumbuhan hijau menumpuk, kurasakan itu! Damai sekali… Siapa yang berani menggangguku di sini. Ini adalah tamanku. Ada benarnya bahwa manusia berasal dari tanah.
Ketika kembali ke hutan, ia bahagia bertemu dengan segala pembentuk tubuhnya dan tetumbuhan... Pada saat demikian, ia siap kembali menjadi tanah pula!


katharsis-holydiary[18912994(7)]